Pages

Jumat, 29 April 2011

SHUBUH BERJAMAAH (UST ARIFIN ILHAM)

Untuk menggelorakan semangat shalat subuh berjamaah di masjid-masjid yang selama ini sepi akan jamaahnya, Ustadz Muhammad Arifin Ilham bersama-sama Majelis Zikir Az-Zikra sejak setahun lalu mengadakan Gerakan Subuh Keliling dengan mengendarai motor. Maka, hampir setiap Jumat subuh, puluhan bahkan kadang lebih dari 100 motor dengan tertib konvoi menuju masjid-masjid di sekitar wilayah Depok. ”Umat Islam mayoritas, tapi minoritas yang beriman. Jadi, nggak usah pakai apa-apa kalau ingin tahu kualitas orang beriman lihat dari shalat Subuhnya,” ujar Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustadz Arifin Ilham, Senin.

Kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri, ia menceritakan bagaimana ia membangun komunitas jamaah shalat Subuh di wilayahnya. “Tak sulit, asal ada kemauan,” ujarnya. Berikut ini petikan wawancaranya:
Bisa dijelaskan latar belakangan Gerakan Subuh Keliling?
Latar belakang Gerakan Subuh Keliling, pertama melihat kondisi umat Islam keseluruhan saat ini. Dalam keadaan hubbud dunia (cinta dunia, red) ini seluruh aspek kehidupan mengalami krisis yang luar biasa, politik, ekonomi, sosial, budaya, bukannya dalang tapi jadi wayang. Ini satu renungan Arifin mendasar bagaimana memulainya? Maka, belajar dari metode hijrah Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW ketika hijrah, pertama yang dibangun adalah masjid. Kalau mau melangkah kebangkitan umat Islam mulai juga dari masjid. Infrastruktur negara, politik, ekonomi, sosial, budaya bahkan militer Madinah dibangun dari masjid. Langkah perdana mengembalikan umat itukepada masjid.
Dengan senangnya mereka beribadah maka, akhlak mereka akan menjadi mulia. Jadi, dua hal yang dapat dibedakan, nggak dapat dipisahkan. Kata orang yang sosialis, ”Itu hanya ritual saja.” Justru akhlak yang perdana itu, hablum minallah dan hablumminan naas. Dengan senangnya dia beribadah maka dia akan berakhlak mulia. Dan akhlak mulia itu karena dia melakukan kesenangan ibadah.


Makanya, kalau orang sudah khusyuk shalatnya hal yang tidak bermanfaat dia tinggalkan, zakat dia tunaikan, tidak mau berzinah, dia jaga kehormatan dirinya, dia tepat janji, lalu dia jaga shalat-shalatnya.

Kenapa yang dipilih Subuh?
Memulai hari itu Subuh. Dan ternyata, orang Yahudi mengukurnya Subuh. Kalau sahabat Nabi Muhammad jelas untuk mengetahui orang munafik, Subuh dia tidak shalat. Makanya, shalat yang paling berat buat orang munafik adalah Subuh dan Isya. Orang Yahudi itu tahu, makanya dia ukur dari shalat Subuh. Jika jamaah Subuh umat Islam sebanyak jamaah Jumat-nya, maka itu kebangkitan umat Islam.

Karena itu, Allah SWT, menyebutkan dalam QS At-Taubah ayat 18: ‘Hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu adalah orang-orang yang memakmurkan masjid.” Mukmin banyak di Indonesia ini, tapi mukmin yang selalu shalat Subuh berjamaah di masjid dapat dihitung dengan jari.
Umat Islam mayoritas, tapi minoritas yang beriman. Jadi, nggak usah pakai apa-apa kalau ingin tahu kualitas orang beriman lihat dari shalat Subuhnya. Kalau, nggak shalat Subuh berjamaah di masjid, berarti belum beriman dia, tanpa alasan syar’i. Manfaat Subuh berjamaah di masjid itu menunjukkan seorang mukmin itu mujahid karena dia melawan hawa nafsunya. Dia meninggalkan rumahnya menuju rumah Allah. Luar biasa itu. Makanya saya menyebutnya ‘Mujahidin Fajar’.

Kedua, masjid itu Rumah Allah. Bandingkan, kalau kita mau masuk istana sangat susah, penjagaannya ketat. Ini rumah Allah, yang lebih dari pada sekedar istana, yang ada di depan mata, tapi kenapa berat untuk melangkah. Takdir kita di tangan-Nya, hidup mati kita di tangan-Nya, rezeki di tangan-Nya, alangkah naif kalau kita tidak mau datang kepada-Nya.
Maka itu, adzan, bukan panggilan muadzin tapi panggilan Allah. Dan itulah undangan yang paling sempurna. Selesai kumandang adzan kita seraya berdoa, Allahumma robba hadzihidda’watittammah, inilah undangan yang paling sempurna. Bisa dibayangkan kalau kita diundang raja, ini yang mengundang kita yang Maha Merajai, yang punya langit dan bumi. Makanya yang dipanggil yang bersyahadat, yang nggak bersyahadat tidak dipanggil. Jadi, jangan mencari dalil, pulang kerjanya larut malam, atau karena berangkat kerja sebelum Subuh. Kalau kita sudah niat, pasti bisa. Man jadda wajada.

Kenapa kita jadi minoritas untuk urusan ibadah?
Al-wahn, karena cinta dunia, akibatnya kita malas ibadah. Al-wahn ini tanda kelemahan iman. Kemudian, masjid itu disebut juga baitul malaikat. Jadi, setiap pintu dijaga malaikat yang mengaminkan orang yang masuk masjid. Allahummaftahli abwaba rahmatika, malaikat mengaminkan. Kemudian malaikat mengikuti dan mengaminkan doa kita di masjid, mendoakan kita selama tidak maksiat di masjid.
Begitu, kita keluar diaminkan lagi oleh malaikat. Allahumma inni as’aluka minfadlik. Malaikat mengaminkan lagi, barakna haulahu. Orang yang baru keluar dari masjid, diberkahi lagi oleh Allah, bukan hanya dia tapi siapa yang ada di dekat dia. Misalnya rezekinya, aktifitasnya, ide-idenya, perjuangannya. Apa lagi jika dia seorang da’i, dakwahnya diberkahi oleh Allah. Bila dia seorang guru, dia berwibawa. Siapa saja, istrinya, anaknya, sahabatnya.

Makanya, Ibnu Rowahah, tokoh pemikir ekonominya Rasulullah Saw, kalau berbisnis dia bukan bertanya berapa modalnya, tapi yang ditanya kamu shalat Subuh di mana? Kalau shalat Subuh di masjid, ayo kita berbisnis. Karena, beliau yakin orang yang shalat Subuh berjamaah di masjid akan membawa keberkahan dalam bisnisnya, dalam pergaulannya, dalam persahabatannya.


Ketiga, masjid itu adalah Baiturrasul. Makanya Nabi sampai akhir hayatnya selalu di masjid sampai beliau digotong ke masjid. Nggak kuat menjadi imam malah menjadi makmum. Sampai beliau bersabda, kalau umatku tahu keutamaan ke masjid, sampai merangkakpun pasti ke masjid. Cuma sayangnya yang tahu itu hanya orang yang beriman.
Keempat, masjid adalah baitul mukminin (rumahnya orang-orang mukmin). Tempat berkumpulnya orang-orang beriaman itu masjid. Dan itu mencairkan semua masalah. Sifat hasud, takabur, perselisihan, dengan dia bersama-sama ke masjid, ada ukhuwwah. Banyak masalah yang bisa diselesaikan di masjid. Masjid juga rumahnya orang-orang fakir. Maka di situ ada Baitul Mal. Makanya para dai Allah harus menjadi pelopor untuk shalat berjamaah di masjid.

Apa saran ustadz supaya orang gampang shalat Subuh berjamaah?
Azam (kemauan keras), nawaitu-nya harus kuat. Rebutlah hidayah fajar itu. Masa dihidangkan oleh Allah, hidayah-rahmat, barakah, pagi-pagi nggak mau.

sumber :
MAJELIS TAUSIAH PARA KYAI & USTADZ INDONESIA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar